Ø KEBENARAN
A. Pengertian Kebenaran
Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia.Artinya sifat manusiawi
atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu
kebenaran. Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak
bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat
digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk
mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Dalam bahasan, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan
makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau
pun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan
hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah
suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan.Kebenaran
merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri.Dengan demikian maka pengabdian ilmu
secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga
ilmu terpaksa menjadi steril.Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah
semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran.
Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran
moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi
bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa
yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan
psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif.
Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan
akalbudi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi.Yang ada
merupakan dasar dari kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya.
B. Hubungan
antara metode dengan kebenaran
Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah,
artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya tahapan-tahapan yang
harus dilalui untuk memperoleh pengetahuan ilmiah.Secara metafisis kebenaran
ilmu bertumpu pada objek ilmu, melalui penelitian dengan dukungan metode serta sarana
penelitian maka diperoleh suatu pengetahuan.Semua objek ilmu benar dalam
dirinya sendiri, karena tidak ada kontradiksi di dalamnya.Kebenaran dan
kesalahan timbul tergantung pada kemampuan menteorikan fakta.
Bangunan suatu pengetahuan secara epistemologis bertumpu
pada suatu asumsi metafisis tertentu, dari asumsi metafisis ini kemudian
menuntut suatu cara atau metode yang sesuai untuk mengetahui objek. Dengan kata
lain metode yang dikembangkan merupakan konsekuensi logis dari watak objek.
Setiap
tradisi epistemologi beranggapan bahwa kebenaran suatu pengetahuan dapat
diperoleh berkat metode yang dipergunakannya, adapun metode-meode tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Empirisme
Empirisme sangat menghargai pengamatan empiris dan cara
kerja Empirisme bertitik tolak dari adanya dualitas antara pengenal dan apa
yang dikenal. Mereka menginginkan agar apa yang terdapat dalam pengetahuan
pengenal bersesuaian dengan kenyataan yang ada di luarnya. Mereka
memberi peran yang besar pada objek yang mau dikenal, sedang
pengenal bersifat pasif. Teori Kebenaran Korespondensi adalah sarana bagi
mereka untuk menguji hasil pengetahuan, menurut teori ini suatu pernyataan
dikatakan benar bila sesuai dengan fakta empiri yang menjadi objeknya.Kelemahan
teori kebenaran korespondensi ialah munculnya kekhilafan karena kurang
cermatnya penginderaan, atau indera tidak normal lagi.Disamping itu teori
kebenaran korespondensi tidak berlaku pada objek/bidang nonempiris atau objek
yang tidak dapat diinderai. Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya
objektif, ia harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam pembentukan
objektivanya. Kebenaran yang benar-benar lepas dari kenyataan subjek.
2. Rasionalisme
Teori kebenaran koherensi tergolong dalam teori kebenaran
yang tradisional. Selain melalui hubungan gagasaan-gagasan secara
logis-sistemik, ada beberapa cara pembuktian dalam berpikir rasional, yaitu
melalui hukum-hukum logika dan perhitungan matematis. Kebenaran koherensi
mempunyai kelemahan mendasar, yaitu terjebak pada penekanan validitas, teorinya
dijaga agar selalu ada koherensi internal. Suatu pernyataan dapat benar dalam
dirinya sendiri, namun ada kemungkinan salah jika dihubungkan dengan pernyataan
lain di luar sistemnya. Hal ini bisa mengarah pada relativisme
pengetahuan.Misal pada jaman Pertengahan ilmu bertumpu pada mitos dan cerita
rakyat, kebenaran argumen tidak pernah bertumpu pada pengalaman dunia luar.
3. Induktivisme
Induktivisme berpendapat bahwa pengetahuan ilmiah bertolak
dari observasi, dan observasi memberikan dasar yang kokoh untuk membangun
pengetahuan ilmiah di atasnya, sedangkan pengetahuan ilmiah disimpulkan dari
keterangan-keterangan observasi yang diperoleh melalui induksi.Hal itu berarti
bahwa pengetahuan ilmiah bukanlah pengetahuan yang telah dibuktikan, melainkan
pengetahuan yang probabel benar.Makin besar jumlah observasi yang membentuk
dasar suatu induksi, dan makin besar variasi kondisi di mana observasi
dilakukan, maka makin besarlah pula probabilitas hasil generalisasi itu benar. Namun kebenaran ilmu akan mundur menuju kearah
probabilitas. Kebenaran yang bertumpu pada pola induksi adalah selalu
dalam kemungkinan, dengan kata lain produk ilmu bersifat tentatif, ia benar
sejauh belum ada data yang menunjukkan pengingkaran terhadap teori.
C. Teori-Teori
Kebenaran
Ilmu pengetahuan terkait erat dengan pencarian kebenaran,
yakni kebenaran ilmiah.Ada banyak yang termasuk pengetahuan manusia, namun
tidak semua hal itu langsung kita golongkan sebagai ilmu pengetahuan. Hanya pengetahuan tertentu, yang diperoleh dari
kegiatan ilmiah, dengan metode yang sistematis, melalui penelitian, analisis
dan pengujian data secara ilmiah, yang dapat kita sebut sebagai ilmu
pengetahuan.
D. Teori Kebenaran Menurut Filsafat
Ada lima teori kebenaran menurut ilmu filsafat, yaitu :
1. Teori Korespondensi ( The Corespondence Theoru of Truth )
Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi adalah
paling diterima secara luas oleh kelompok realis.Menurut teori ini, kebenaran
adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective
reality).Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta
itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan
itu berusaha untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan
pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu.
Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan
teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang
dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang
dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya jika
seorang mahasiswa mengatakan “kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka
pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat
faktual, yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa. Sekiranya
orang lain yang mengatakan bahwa “kota Yogyakarta berada di pulau Sumatra” maka
pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai
dengan pernyataan terebut. Dalam hal ini maka secara faktual “kota Yogyakarta
bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Jawa”.
Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak
mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena
atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yag sudah ditetapkan atau diingkari.
Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar,
jika tidak, maka pertimbangan itu salah.
Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara
apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan
salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan
sebagaimana adanya. Atau dapat pula dikatakan bahwa kebenaran terletak pada
kesesuaian antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan
realitas sebagaimana adanya. Kebenaran sebagai persesuaian juga disebut sebagai
kebenaran empiris, karena kebenaran suatu pernyataan proposisi, atau teori,
ditentukan oleh apakah pernyataan, proposisi atau teori didukung fakta atau
tidak.
2. Teori Konsistensi/Koherensi ( The Coherence Theory of Truth )
Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila
pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan
sebelumnya yang dianggap benar. Artinya
pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan
pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut
logika. Misalnya, bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati”
adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia
dan si Hasan pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah
konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Salah satu kesulitan dan sekaligus keberatan atas teori ini
adalah bahwa karena kebenaran suatu pernyataan didasarkan pada kaitan atau
kesesuaiannya dengan pernyataan lain, timbul pertanyaan bagaimana dengan
kebenaran pernyataan tadi? Jawabannya, kebenarannya ditentukan berdasarkan
fakta apakah pernyataan tersebut sesuai dan sejalan dengan pernyataan yang
lain. Hal ini akan berlangsung terus sehingga akan terjadi gerak mundur tanpa
henti (infinite regress) atau akan terjadi gerak putar tanpa henti.
Karena itu, kendati tidak bisa dibantah bahwa teori
kebenaran sebagai keteguhan ini penting, dalam kenyataan perlu digabungkan
dengan teori kebenaran sebagai kesesuaian dengan realitas.Dalam situasi
tertentu kita tidak selalu perlu mengecek apakah suatu pernyataan adalah benar,
dengan merujuknya pada realitas.Kita cukup mengandaikannya sebagai benar secara
apriori, tetapi, dalam situasi lainnya, kita tetap perlu merujuk pada realitas
untuk bisa menguji kebenaran pernyataan tersebut.
.
3.
Teori Pragmatik ( The Pragmatic Theory of Truth )
Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce
(1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How
to Make Ideals Clear”.Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli
filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat
ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika.Ahli-ahli filasafat ini di antaranya
adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead
(1863-1931) dan C.I. Lewis.
Pragmatisme menantang segala otoritanianisme,
intelektualisme dan rasionalisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat
(utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan,
Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan
bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan
perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis
adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup
praktis dalam kehidupan manusia.
Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi,
dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling
bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi
tentang kebenaran.kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan
ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Akan tetapi
karena kita dengan situasi yang sebenarnya, maka dapat diujilah pertimbangan
tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita
anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang
praktis.
Menurut teori pragmatis, “kebenaran suatu pernyataan diukur
dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan
praktis.Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau
konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan
manusia”.
Teori kebenaran pragmatis adalah teori yang berpandangan
bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal
atau sosial.Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada berfaedah
tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya.Kebenaran
suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.
4. Teori Performatif ( The
Performatif Theory of Truth )
Teori
ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang oleh
pemegang otoritas tertentu. Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus
mengikuti kebenaran performatif.
Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama,
pemimpin adat, pemimpin masyarakat dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat
membawa kepada kehidupan social yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, ada
yang stabil, dan sebagainya.
Masyarakat mengikuti kebenaran
performatif tidak terbiasa berfikir kritis dan rasional. Mereka kurang
inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran pemegang otoritas.
Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat,
kebiasaaan ini seakan – akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar
keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari
kebenaran.
5. Teori Struktural ( The Structural
Theory of Truth )
Teori ini menyatakan bahwa suatu
teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau
pwerspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yan maun mengakui atau mendukung
paradigma tersebut. Paradigma juga menunjukan keanekaragaman individual dalam
penerapan nilai – nilai bersama yang bisa melayani fungsi – fungsi esensial
ilmu pengetahuan. Fungsi dari paradigma adalah sebagai yuridiktif yang diterima dalam
hokum yang tidak tertulis. Pengujian suatu paradigm terjadi setelah adanya
kegagalan secara berlarut – larut dalam memecahkan masalah yang menimbulkan
krisis.
Pengujian ini adalah bagian dari kompetisi
diantara dua paradigm yang bersaingan dalam merebutkan kesetiaan masyarakat
sains. Teori yang menang, akan mengalami verifikasi.
Adanya perdebatan antar paradigm
bukan mengenai kemampuan relative suatu paradigm dalam memecahkan masalah
secara tuntas. Adanya jaringan yang kuat dari para ilmuwan sebagai peneliti
konseptual teori instrument dan metedologi merupakan sumber utama yang
menghubungkan dengan pemecahan berbagai masalah.
D. Sifat
kebenaran ilmu
Kebenaran mempunyai banyak aspek, dan bahkan bersama ilmu
dapat didekati secara terpilah dan hasil yang bervariasi atas objek yang sama.
Popper memandang teori adalah sebagai hasil imajinasi manusia, validitasnya
tergantung pada persetujuan antara konsekuensi dan fakta observasi.
1. Evolusionisme
Suatu teori adalah tidak pernah benar dalam pengertian
sempurna, paling bagus hanya berusaha menuju ke kebenaran.Thomas Kuhn
berpandangan bahwa kemajuan ilmu tidaklah bergerak menuju ke kebenaran, jadi
hanya berkembang.
Sejalan dengan itu
Pranarka melihatilmu selalu dalam proses evolusi apakah berkembang ke arah
kemajuan ataukah kemunduran,
karena ilmu merupakan hasil aktivitas manusia yang selalu berkembang dari jaman
ke jaman.
Kebenaran ilmu walau diperoleh secara konsensus namun
memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan. Sifat
keuniversalan ilmu masih dapat dibatasi oleh penemuan-penemuan baru atau
penemuan lain yang hasilnya menggugurkan penemuan terdahulu atau bertentangan sama
sekali, sehingga memerlukan penelitian lebih mendalam .Jika hasilnya berbeda
dari kebenaran lama maka maka harus diganti oleh penemuan baru atau
kedua-duanya berjalan bersama dengan kekuatannya atas kebenaran masing-masing.
Ilmu sekarang lebih mendekati kebenaran daripada ilmu pada
jaman Pertengahan, dan ilmu pada abad duapuluh akan lebih mendekati kebenaran
daripada abad sebelumnya. Hal tersebut tidak seperti ilmu pada jaman Babilonia
yang dulunya benar namun sekarang salah, ilmu kita (kealaman) benar untuk
sekarang dan akan salah untuk seribu tahun kemudian, tapi kita mendekati
kebenaran lebih dekat.
2. Falsifikasionis
Popper dalam memecahkan tujuan ilmu sebagai pencarian
kebenaran ia berpendapat bahwa ilmu tidak pernah mencapai kebenaran, paling
jauh ilmu hanya berusaha mendekat ke kebenaran (verisimilitude). Menurutnya
teori-teori lama yang telah diganti adalah salah bila dilihat dari teori-teori
yang berlaku sekarang atau mungkin kedua-duanya salah, sedangkan kita tidak
pernah mengetahui apakah teori sekarang itu benar.Yang ada hanyalah teori
sekarang lebih superior dibanding dengan teori yang telah digantinya. Namun
verisimilitude tidak sama dengan probabilitas, karena probabilitas merupakan
konsep tentang menedekati kepastian lewat suatu pengurangan gradual isi
informatif. Sebaliknya, verisimilitude merupakan konsep tentang mendekati
kebenaran yang komprehensif.Jadi verisimilitude menggabungkan kebenaran dengan
isi, sementara probabilitas menggabungkan kebenaran dengan kekurangan isi.
Tesis utama Popper ialah bahwa kita tidak pernah bisa
membenarkan (justify) suatu teori. Tetapi terkadang kita bisa
“membenarkan”(dalam arti lain) pemilihan kita atas suatu teori, dengan
mempertimbangkan kenyataan bahwa teori tersebut sampai kini bisa bertahan
terhadap kritik lebih tangguh daripada teori saingannya Taryadi, 1989: 75).
3. Relativisme
Relativisme berpandangan bahwa bobot suatu teori harus
dinilai relative dilihat dari penilaian individual atau grup yang
memandangnya.Feyerabend memandang ilmu sebagai sarana suatu masyarakat
mempertahankan diri, oleh karena itu kriteria kebenaran ilmu antar masyarakat
juga bervariasi karena setiap masyarakat punya kebebasan untuk menentukan
kriteria kebenarannya.
Pragmatisme tergolong dalam pandangan relativis karena
menganggap kebenaran merupakan proses penyesuaian manusia terhadap lingkungan.
Karena setiap kebenaran bersifat praktis maka tiada kebenaran yang bersifat
mutlak, berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri, sebab pengalaman
berjalan terus dan segala sesuatu yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh
pengalaman berikutnya.
4. Objektivisme
Apa yang diartikan sebagai “benar” ketika kita mengklain
suatu pernyataan adalah sebagaimana yang Aristoteles artikan yaitu ”sesuai
dengan keadaan“: pernyataan benar adalah “representasi atas objek” atau cermin
atas itu ). Tarski menekankan teori kebenaran korespondensi sebagai landasan
objektivitas ilmu, karena suatu teori dituntut untuk memenuhi kesesuaian antara
pernyataan dengan fakta.Teori kebenaran yang diselamatkan Tarski merupakan
suatu teori yang memandang kebenaran bersifat “objektif”, karena pernyataan
yang benar melebihi dari sekedar pengalaman yang bersifat subjektif.Ia juga
“absolut” karena tidak relatif terhadap suatu anggapan atau kepercayaan.
Objektivisme menyingkirkan individu-individu dan penilaian
para individu yang memegang peranan penting di dalam analisa-analisa tentang
pengetahuan, objektivisme lebih bertumpu pada objek daripada subjek dalam
mengembangkan ilmu.Bila teori ilmiah benar dalam arti sesungguhnya, yaitu
bersesuaian secara pasti dengan keadaan, maka tidak ada tempat bagi interpretasi
ketidaksetujuan, beberapa ilmuwan percaya bahwa teori-teori mewakili gunung
kebenaran. Roger berpendapat bahwa teori-teori selalu merupakan imajinasi dari
konstruksi mental, dikuatkan oleh persetujuan antara fakta observasi dan
peramalan atas implikasi. Kelemahan kebenaran merupakan kesesuaian dengan
keadaan adalah mereka merupakan penyederhanaan dan pengabstraksian dari
hubungan antara fakta-faktadan kejadian-kejadianyang digabungkan dengan unsur
persetujuan.
Semua teori kebenaran itu ada dan dipraktekkan manusia di
dalam kehidupan nyata.Yang mana masing-masing mempunyai nilai di dalam
kehidupan manusia.Dan dapatlah dipahami bahwa pendidikan menjadi ilmuwan penuh
dengan rambu-rambu yang mengingatkan orang agar selalu mempertahankan kebenaran
dan berani mengemukakan pendapat dengan jujur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar